
Sudah sejak lima tahun silam, sebagai orang berusia senja, tentu merayakan tahun baru tidak harus berhura-hura ria di malam tahun baru. Dulu saat masih muda, setiap malam tahun baru disambut penuh suka cita: mengadakan acara bebakaran bersama komunitas, menikmati suasana malam berkeliling kota Yogyakarta sambil meniup terompet berbagi kebahagiaan sepanjang jalan, dan pas pergantian tahun ikut menyalakan kembang api dan petasan penanda meninggalkan tahun berlalu.
Menyambut tahun baru 2026, saya lebih memilih berkumpul makan malam bersama keluarga besar dan berikutnya "menghabiskan" hari terakhir tahun 2025 dengan ngopi bersama beberapa teman sambil ngobrol ngalor ngidul.
"Kita tutup tahun ini dengan ngobrol di Ndi Kopine ya Mas. Sambil menikmati ketenangan perbatasan Yogyakarta -- Jawa Tengah, di keteduhan pohon kelengkeng," ajak penyair Dedet Setiadi lewat telepon.
Meskipun terletak di Bligo, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, perjalanan dari Omah Ampiran (Randugowang, Sleman, Yogyakarta) menuju Ndi Kopine tidak sampai tiga puluh menit, menempuh jarak sepanjang dua puluh tujuh kilometer lebih.
Perjalanan melewati pasar Cebongan, Buk Renteng (kanal Van der Wijck, dibangun Belanda tahun 1909), dan desa Tangisan (konon dulu terdapat batu besar yang mengeluarkan suara tangisan), begitu menyenangkan dengan pemandangan hamparan sawah di kanan kiri, perbukitan menoreh di sisi barat, dan gunung Merapi-Merbabu di utara.
Lokasinya mudah ditemukan karena berdekatan dengan Kantor Balai Desa Bligo, Ngluwar, dan pom bensin mini.
Kafe yang berada di Jalan Bligo, Benteng, Ngluwar, dikelola seorang remaja, Styawan- akrab disapa Tya- pernah kuliah desain interior di Solo, ramah menyambut tamu.
"Ini biji kopi dari Temanggung. Kalau itu baru saja datang dibawakan teman, robusta Sidikalang, Medan," jelas Tya sambil menunjukkan biji-biji kopi jenis arabika maupun robusta dalam toples kecil ke Ibu Negara Omah Ampiran.
Kopi Sidikalang berasal dari Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, di kawasan pegunungan Bukit Barisan. Kopi ini diakui sebagai salah satu varietas kopi terbaik di Sumatera, setara dengan kopi Gayo.
Kopi robusta Sidikalang memiliki cita rasa manis, aroma tidak terlalu tajam, sehingga cocok bagi penikmat kopi yang tidak suka dengan cita rasa kuat.
"Pahitnya kopi robusta Sidikalang terasa tajam dan enak, nagihi. Aromanya lembut," jelas Ibu Negara Omah Ampiran, penyuka kopi tanpa gula.
Pilihan minuman lain: Espresso, Cappucino, Mochacina, Americano, Coffee Milk, Caffe Latte, Matchapresso, Cinnamon Latte. Lebih istimewa lagi minuman signature Ndi Kopine yang diberi nama unik: Iki, Kuwi, Kae.
Iki merupakan sajian kopi dengan perpaduan ekstrak kelepon, ditambah daun pandan, gula aren, santan segar, dan kelapa sangrai, semua berpadu menghasilkan sensasi rasa manis menggoda.
Kuwi, kopi dengan sensasi rujak jawa, berasa manis, asam, pahit, asin, pedas, dan aroma buah.
"Kopi ini menggambarkan kejujuran, tidak saling berseteru. Untuk orang yang pertama kali mencicipi, mungkin merasakan sesuatu yang berbeda. Tetapi bagi pencintanya, justru melahirkan gairah baru, muncul tanpa ragu, seolah dua dunia yang bertemu. Bukan saling menakhlukkan, melainkan menyatu padu," jelas Tya penuh semangat.
Kopi lain yang hadir sebagai signature adalah Kae, minuman kopi robusta pilihan dengan sensasi jeruk nipis segar dan sentuhan rempah. Menurut Tya, yang pernah sekolah barista, Kae mengambil inspirasi dari hal-hal yang sering kita lewati, tapi jarang benar-benar kita hirup aromanya.
"Semua elemen itu membentuk racikan yang tidak rumit, namun tetap mengundang. Sebuah cara mengatakan bahwa hal yang jauh terkadang hanya butuh sedikit keberanian untuk didekatkan," tulis Tya lewat sosial medianya.
"Kopi rasa nangka, cempedak, jahe, kayu manis, dan lainnya, diekstrak sendiri. Hitung-hitung sambil belajar," jelas Yupi Purwati yang juga ikut mengelola Ndi Kopine, saat menyajikan mendoan, bakwan, dan ubi goreng panas.
Saya menduga jika nama Ndi Kopine pasti sudah dipikirkan masak-masak dan berkorelasi dengan sajian kopi signature-nya.
Nama Ndi Kopine memiliki makna sederhana dan kuat secara kultural. Terutama jika dikaitkan dengan bahasa Jawa dan pengalaman keseharian menikmati kopi.
Ndi/endi dalam bahasa Jawa berarti di mana. Jika digabung dengan kata kopine, maka melahirkan frasa "Ndi Kopine- Di mana kopinya?" Pertanyaan tersebut terasa sangat akrab di telinga, utamanya saat pagi atau sore hari, ketika lelah, atau seseorang ingin jeda.
Makna kata di mana tidak hanya merujuk lokasi fisik, melainkan dapat dimaknai sebagai pencarian rasa tenang, ruang ngobrol, atau nenepi dari hiruk-pikuk keramaian.
Dalam konteks ini, Ndi Kopine seolah ingin memberi jawaban bahwa kopi ada di sini, tempat berhenti sejenak, tempat orang bertemu, tempat cerita dimulai.
Artinya, dari secangkir kopi, obrolan mengenai hidup dan kehidupan, sastra budaya, politik, pekerjaan, kegelisahan- dapat dimulai serta Ndi Kopine bisa menjelma sebagai ruang berkelindannya imajinasi.
Tya sendiri memiliki pandangan bahwa kopi signature Ndi Kopine: Iki, Kae, dan Kuwi, memiliki makna kehangatan tanpa jarak.
Iki berarti ini, mengacu pada kedekatan, dan keakraban. Memberi pengertian bahwa kehangatan tidak selalu jauh adanya, terkadang justru ada di Ndi Kopine, di titik dan tempat biasa.
Kae, berarti itu yang jauh. Sebuah Jarak yang biasanya dibiarkan menggantung di antara kata dan rasa. Jarak tersebut diusahakan dilipat perlahan.
Sedangkan Kuwi berarti itu, menunjuk sesuatu yang dekat dilihat namun jauh untuk bisa diraih. Tidak sejauh kae namun juga tidak sedekat iki, absurditas kecil yang akrab dalam keseharian.
Kae lahir dari keinginan sederhana: membawa sesuatu yang terasa jauh menjadi akrab, membumi, dan bisa dicicipi tanpa perlu banyak teori.
Di antara percakapan di Ndi Kopine- bersama Ibu Negara Omah Ampiran, Agus Suprihono (sastrawan Jawa), Dedet Setyadi (penyair Jawa Tengah), Yupi Purwati (pecinta sastra, musik), Endro (pecinta fotografi)- mengenai hilangnya gunung purba di wilayah Sleman, terjebaknya laut di tempuran Magelang, bagaimana asal mula nama gunung Sumbing, lahirlah catatan imajinatif:
Ndi Kopine
kopi tahu lelah butuh waktu bukan nasihat
ketika sunyi diberi cangkir dan bicara jadi pelan
di sini ia diseduh
agar pikiran sempat pulang
biarkan tak semua tanya punya jawab
karena koma adalah kerinduan tak mengenal jeda
lalu kita berhenti di warna hitam pahit kehidupan...
"Rasa gurih asin mendoannya pas, Mas. Apalagi dinikmati selagi panas dengan dicocol sambal kecap," celetuk Agus Suprihono membuyarkan lamunan...(*)
0 Response to "Ndi kopine: Iki, kuwi, kae"
Posting Komentar